Usaha ternak sapi perah di Kecamatan Tutur berawal dari tahun 1911, ketika orang-orang Belanda yang tinggal disini membawa dan beternak sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu segar bagi keluarga mereka. Melihat kegiatan ini, penduduk lokal pun tertarik untuk ikut beternak sapi perah sambil tetap bertani.
Namun, karena susu segar yang dihasilkan mudah rusak, para peternak mengalami banyak kesulitan. Belajar dari pengalaman ini, pada awal 1961 para peternak bergabung dan membentuk wadah bersama yang dinamakan koperasi, untuk mengatasi permasalahan tersebut dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Anggota koperasi saat ini berjumlah 11.225 orang dengan populasi sapi perah mencapai 25.723 ekor. Produksi susu sampai saat ini mencapai ± 94.000 liter per hari atau ± 1.128.000 liter per tahun. Koperasi menampung susu dari peternak sapi yang kemudian didistribusikan ke industri besar seperti INDOLAKTO.
Koperasi juga mengolah susu dan memasarkannya ke kios susu, café, serta minimarket yang ada disekitar. Selain usaha susu segar, koperasi menjalankan unit lainnya seperti simpan pinjam dan jasa perdagangan. Koperasi juga memanfaatkan kotoran sapi sebagai produk turunan untuk menjadi biogas dan pupuk kandang.
Koperasi mendirikan 33 pos penampungan susu segar pada 13 Desa di wilayah kerja koperasi untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap anggota. Semua pos penampungan dilengkapi dengan mesin pendingin (cooling unit), pemanas air dan Genset. Selain itu koperasi juga menyediakan sarana angkutan khusus susu. Koperasi memiliki konsep SOP susu yaitu ABCD (Asli, Bersih, Cepat Disetorkan ke penampungan).
Koperasi mengembangkan HMT dengan membudidayakan rumput, powder jagung, dan menanam HMT jenis baru. Lalu koperasi juga menyediakan konsentrat paket pakan ternak bernama cheap pro dengan produksi 19 ribu ton per tahun. Koperasi menerapkan sistem integrasi ternak-tanaman.
Saat ini, koperasi tengah merintis usaha ternak sapi perah organik untuk menghasilkan susu organik, kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Denmark. Rintisan usaha produksi susu organik ini dilaksanakan dalam bentuk percontohan, melibatkan peternak sapi perah anggota KPSP Setia Kawan. Percontohan ini akan dikembangkan sampai tahun 2026.
Penyusun: Rausyan Fikry (PMO Deputi Perkoperasian)


















