Berawal dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulus yang berasal dari Indramayu, Jawa Barat lalu berubah menjadi koperasi. Anggota yang bergabung sampai saat ini mencapai 2.175 orang. Bisnis utama yang dijalankan adalah produksi Beras Putih Premium, Beras Hitam Premium, dan Beras Merah Premium. Selain itu juga koperasi mengembangkan usaha ternak kambing, serta membangun kios pupuk.
Muhaimin, Ketua Koperasi bercerita Gapoktan Tani Mulus terbentuk pada 2010. Saat itu, anggotanya hanya 140 orang, dari tiga kelompok tani. "Dengan luas lahan garapan 278 hektar, produksi padi saat itu hanya lima ton per hektar," ujar Muhaimin.
Untuk meningkatkan efisiensi petani dan memberikan legalitas yang sah, Gapoktan Tani Mulus menginisiasi pembentukan koperasi pada tahun 2012. Koperasi ini terdiri dari anggota-anggota yang sebelumnya telah bergabung dalam Gapoktan. Dengan melaksanakan program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan anggotanya, hasil panen yang dicapai meningkat menjadi 6,7 ton per hektar.
Setelah Gapoktan Tani Mulus menjadi binaan dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Cirebon pada tahun 2014, produksi padi mereka mengalami peningkatan signifikan. Dengan dukungan dari BI serta bimbingan dari penyuluh pertanian, mereka menerapkan demplot (lahan percontohan) dengan menggunakan metode tanam hazton dan jajar legowo.
Pada tahun 2019, Pemerintah Pusat mengangkat koperasi Tani Mulus sebagai korporasi, mengakui status resmi mereka. Jumlah anggotanya meningkat menjadi 2.742 orang, dengan kepemilikan lahan mencapai 10 ribu hektare yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Cikedung, Terisi, dan Lelea.
Muhaimin menyadari bahwa selain tantangan dalam produksi, ada tiga masalah utama lain yang dihadapi oleh para petani. Pertama, adalah akses terhadap pembiayaan yang seringkali sulit diperoleh. Kedua, adalah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan akan sarana pertanian. Dan yang ketiga, adalah ketidakpastian mengenai pasar saat musim panen tiba.
Untuk mengatasi masalah pertama, Koperasi Tani Mulus menjalin kemitraan dengan BNI, atas dorongan dari BI, untuk mengatasi aspek keuangan. Melalui kerjasama ini, para petani dapat mengakses pembiayaan melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Sejak tahun 2019 hingga sekarang, sebanyak 400 petani telah berhasil memperoleh pembiayaan dengan total nilai mencapai Rp 7,6 miliar.
Lalu untuk menangani masalah sarana produksi, korporasi Tani Mulus menginisiasi pendirian kios pupuk yang juga menyediakan benih dan obat-obatan pertanian. Sementara untuk mengatasi tantangan dalam pasar, korporasi tersebut menjalin kemitraan dengan beberapa pasar mitra, termasuk food station, Nusindo, Pupuk Indonesia Pangan, serta beberapa ritel modern. Selain itu, mereka juga bermitra dengan platform marketplace untuk memperluas jangkauan pasar.
Meskipun telah mengalami peningkatan kesejahteraan, para petani yang tergabung dalam korporasi Tani Mulus tetap peka terhadap kondisi sekitar mereka. Oleh karena itu, mereka juga aktif dalam kegiatan sosial dan berbagai upaya untuk membantu masyarakat sekitar.
Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah menyekolahkan anak-anak yang terlantar dan putus sekolah. Selain mengirim mereka ke sekolah formal, anak-anak tersebut juga diarahkan untuk mengikuti pendidikan informal dan pelatihan kerja guna meningkatkan keterampilan mereka.
Selain itu, mereka juga memberikan perlindungan kepada anak-anak yang terlibat dengan hukum, mereka yang memiliki disabilitas, dan lansia. Tak hanya itu, Koperasi Tani Mulus juga memberikan pelatihan wirausaha kepada kaum perempuan untuk meningkatkan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi mereka.


















