Menurut pakar manajemen, Peter Drucker, pada abad sebelumnya, jabatan eksekutif ditentukan oleh kedudukan sosial seseorang di tengah masyarakat. Pada masa lalu, jabatan selalu berbentuk simbolik ketimbang memperhitungan kemampuan individu dalam mengembangkan organisasi.
Hari ini, semua orang menuntut gagasan meritokrasi di semua lini, tidak terkecuali di koperasi. Performa dan target menjadi juru kunci bagi keberhasilan koperasi. Namun, tradisi bapakisme tidak lutur sepenuhnya di era koperasi modern. Jujur saja, kita memilih pengurus seringkali karena memperhitungan usia dan pengaruh mereka di masa lalu.
Ini terjadi karena kita terlalu terbiasa untuk mengukur kapasitas orang dari kekuasaan yang ia miliki, bukan dari performa kerja yang dapat ia dibuktikan.
Beberapa orang yang memiliki kapasitas dan kompetensi, duduk diantrian paling akhir hingga akhirnya memilih untuk menarik diri dari koperasi. Di sisi lain, di struktur kepengurusan, masih dipenuhi mentalitas senang dilayani daripada melayani.
Masih banyak pengurus koperasi disebut sebagai manajer karena mereka memiliki “anak buah”. Tapi pengurus koperasi sejati tidak pernah bergantung pada posisi yang mereka duduki, tetapi lebih pada misi yang ingin mereka wujudkan.
Pengurus koperasi sejati harus mampu membawa perubahan fundamental bagi organisasi. Menentukan masa depan pasar dan mengubah model bisnisnya untuk beradaptasi dengan zaman.
Pengurus koperasi yang efektif, sangat sadar bahwa 20 persen dari waktu mereka harus menghasilkan 80 persen hasil. Karena bagaimanapun juga, waktu adalah sumber daya yang paling terbatas yang dimiliki manusia.
Coba kita bayangkan bersama, jika waktu yang terbatas ini hanya untuk melayani pengurus koperasi. Banyak tugas yang dapat dilakukan pengurus koperasi, tapi nyatanya mereka tidak melakukan tugas apapun, selain menjaga rutinitas tetap berjalan untuk kestabilan jangka pendek, dan terlalu rewel dengan masalah-masalah sepele.
Kita tidak membutuhkan pengurus koperasi yang memenuhi absensi dan memotivasi para anggota setiap hari. Yang penting bagi pengurus koperasi adalah memastikan hari-harinya tidak membuahkan hasil yang sia-sia untuk kesuksesan jangka panjang organisasi. Karena itulah, mereka diamanahkan menjadi pengurus koperasi dan “digaji” anggota.
Penyebab paling umum kegagalan pengurus koperasi adalah ketidakmampuan para manajernya untuk fokus pada hal-hal yang fundamental yang memiliki dampak besar bagi organisasi.
Padahal, tujuan besar koperasi hanya dapat terwujud jika kita memiliki pemimpin yang mampu mengonsulidasikan pengetahuan, sumber daya, dan anggota kita pada satu tugas yang paling utama.
Sekarang, koperasi kita membutuhkan pemimpin yang berani fokus pada satu prioritas yang akan menjadi orientasi jangka panjang organisasi secara menyeluruh. Pengurus koperasi yang memiliki fokus pada satu hal, akan dapat mengejar prioritas-prioritas lainnya dengan sangat baik.
Dengan fokus, pengurus koperasi yang cerdas, tidak akan menyia-nyiakan sumber daya untuk hal yang tidak berguna dan jangka pendek.
Pengurus koperasi yang seperti ini tidak akan terjerat dengan hal-hal sepele, karena mereka memiliki tujuan besar di masa depan yang lebih mulia.
Sebagaimana pandangan David Schwartz, dalam buku “The Magic of Thinking Big”, kebanyakan orang gagal dalam hidup bukan karena membidik terlalu tinggi dan meleset, tapi karena mereka membidik terlalu rendah dan tidak meleset”.
Pada akhirnya, pengurus koperasi yang pantas, bukan mereka yang selalu berteriak untuk “bekerja lebih keras” untuk mempertahankan produktivitas, tetapi mereka yang selalu menemukan cara baru untuk “bekerja lebih cerdas” untuk menstimulus produktivitas berkali-kali lipat.
Oleh Wildanshah


















