Starbuck, Hard Rock Café dan Holy Wings tidak sekedar menjual makanan dan minum. Bisnis utama mereka adalah menyediakan pengalaman yang menyenangkan untuk para pelanggan.
Ketiga perusahaan tersebut, membuat tempat mereka seperti panggung yang diisi dengan aktraksi, hiburan, dan cerita yang dapat membuat pengalaman yang tak terlupakan.
Harga pokok produksi untuk membuat kopi mungkin tidak sampai Rp 10.000, tapi dengan pengalaman yang asik, para pelanggan rela untuk membayar hingga ratusan ribu. Ini yang membuat kita tidak pernah rela untuk membayar kopi lebih dari Rp 50.000 di warung kopi pinggir jalan dengan fasilitas seadanya.
Nyatanya, kita memang rela membayar lebih untuk produk yang dapat memberikan pengalaman baru atau menyenangkan kepada kita.
Fenomena ini, diulas dengan baik oleh Josephine Pine dan James Gilmore dalam buku The Experience Economy. Menurut kedua penulis , pengalaman turut mempengaruhi harga dari jasa dan produk yang kita tawarkan.
Mereka memberikan ilustrasi fenomena “experience economy” dari kue ulang tahun. Kue pada dasarnya memiliki bahan dan resep yang sama. Namun, kue bisa jadi terlihat lebih mahal jika disandingkan dengan momentum ulang tahun. Kue yang tadinya biasa-biasa saja dan murah, bisa menjadi istimewa dan mahal dengan adanya kue khusus pesta ulang tahun.
Jadi, sebenarnya yang dibeli oleh kita bukanlah kue, tapi nilai dari momentum ulang tahun itu sendiri, yang membuat kita rela mengeluarkan uang lebih besar daripada biasanya untuk mendapatkan pengalaman yang luar biasa.
Lalu bagaimana membuat pengalaman berharga untuk konsumen, pelanggan atau anggota di koperasi kita? Yang perlu diingat, untuk monetisasi pengalaman, koperasi kita jangan hanya fokus pada bahan baku, barang dan jasa saja, kita perlu improvisasi untuk menyediakan pengalaman yang berharga, sensasi yang berkesan dan mengesankan untuk para anggota kita.
Menciptakan pengalaman seru dan baru di koperasi bukanlah hal gampang. Koperasi kita membutuhkan metafora, untuk mengeksplorasi dunia bisnis dengan dunia imajinasi. Daripada membuat “jobdesk” untuk para anggota, kita perlu menciptakan “naskah drama” untuk “semua acara”, membuat para anggota bermain “peran yang dipuja” untuk menghidupkan pengalaman tak terlupakan untuk para pelanggan.
Kita dapat belajar dari Warcoop, koperasi yang diinisiasi anak muda di Jakarta. Warcoop bertumbuh dengan menciptakan pengalaman otentik komunitasnya sendiri.
Mereka membuat sebuah warung kopi instan dengan fasilitas board game, COD Point, hingga payment gateway sistem. Yang paling seru dari model bisnis mereka adalah selalu melibatkan pelanggan untuk memproduksi konten di media sosial.
Warcoop menjadikan dirinya sebagai panggung sosial untuk para pelanggan (peer group ecosystem) melalui program live IG “Obrolan Warcoop” sebagai momentum bersama. Melalui program tersebut, Warcoop ingin menjadikan obrolan keseharian pelanggan menjadi topik komunitas, sekaligus mengapresiasi ekspresi dan eksistensi mereka. Hal ini jarang dilakukan oleh warung kopi konvensional.
Upaya yang dilakukan Warcoop terbukti berhasil menjaga loyalitas pelanggan dengan memberikan pengalaman berinteraksi dan berekspresi bersama. Rata-rata pelanggan baru yang datang diajak langsung oleh para pelanggan yang telah memiliki pengalaman nongkrong asik di Warcoop.
oleh: Wildanshah


















