Clayton Christensen, penulis buku “The Innovator’s Dilemma”, mengingatkan kita bahwa teknologi “distruptif” adalah teknologi yang berkinerja buruk atau lebih buruk daripada teknologi lain dari segi konvensional, tapi melakukan sesuatu yang dihargai oleh pelanggan baru.
Teknologi distruptif terbukti dapat terus disempurnakan sembari membuka peluang pasar baru. Tapi, koperasi-koperasi kita hari ini, terlalu takut berinvestasi pada produk atau jasa yang inovatif. Alasannya, sederhana, bagi mereka inovasi sama dengan “tidak ada uang besar yang bisa di dapat dengan cepat”.
Dengan menarik diri untuk tidak berinvestasi pada inovasi, koperasi kita selalu terkejut ketika produk atau jasa inovatif yang awalnya dipadang sebelah mata menjadi bisnis raksasa. Pada saat koperasi kita sadar betapa berharganya inovasi, segalanya sudah sulit untuk dikejar.
Coba ingat, beberapa bisnis rintisan di Indonesia seperti platform Tokopedia dan Gojek, yang awalnya merangkak sekaligus dicibir oleh pasar mainstream.
Produk dan jasa mereka tidak terlalu diinginkan diawal kemunculannya, tapi seiring berjalan, platform tersebut telah berhasil mencetak pasar masa depan. Lalu yang lain, mulai mencoba meniru kesuksesan tersebut tapi berakhir mengenaskan.
Pada konteks koperasi, kita cenderung tidak berani membuka pasar baru dengan inovasi. Bahkan semakin besar skala koperasi yang beroperasi, untuk memberikan pelayanan pada satu persen pasar yang benar-benar baru dianggap sebagai sebuah pemborosan yang tak masuk akal.
Koperasi yang sudah besar selalu berupaya menjadi yang terbaik dibidangnya, harga diri mereka didedikasikan untuk mengawal sistem yang dianggap teruji untuk tetap berjalan selamanya.
Ini yang membuat koperasi kita tidak fleksibel dalam melakukan strategi alokasi sumber daya kepada eksperimen baru. Padahal, pasar masa depan selalu tidak terduga.
Begitu besar ketergantungan kita pada sistem yang lama, membuat koperasi kita luput pada sesuatu yang melampaui keinginan dan kebutuhan anggota dan calon pelanggan.
Koperasi kita terlalu nyaman melayani kebutuhan anggota dan keinginan konsumen, sehingga koperasi selalu menutup mata pada peluang dan potensi yang dipicu oleh inovasi.
Selalu mengikuti pelanggan bisa jadi jebakan bagi para penggiat koperasi, sebagaimana kata seorang industrialis otomotif, Henry Ford,”Jika aku bertanya kepada orang-orang apa yang mereka inginkan, mereka akan mengatakan “kuda yang lebih cepat”. Andai saja, Henry Ford menuruti pelanggannya, hari ini bisa jadi kita masih menaiki kuda menuju kantor .
Berangkat dari hal tersebut kita dapat belajar bahwa koperasi mapan yang gagal berkembang seringkali disebabkan karena mereka terlalu fokus melayani “pelanggan lama” dan tidak memulai inovasi untuk menciptakan potensi “pelanggan baru”.
Langkah praktis yang dapat dilakukan koperasi kita sejak dini; Pertama, koperasi kita harus memulai untuk berfikir melampaui keinginan konsumen dan kebutuhan anggota untuk mencari peluang baru yang dapat menciptakan pelanggan baru yang mungkin tertarik dengan distrupsi yang kita galang.
Kedua, koperasi kita perlu menginisiasi kelompok aksi dalam tim kecil yang terdiri dari tiga orang dengan latarbelakang yang berbeda untuk menciptakan hal baru.
Kelompok aksi ini sudah dipersiapkan untuk gagal 99 persen di pasar mainstream, tapi mampu menstimulus 1 persen pasar baru. Karena selalu ada kesempatan besar di pasar baru, seperti yang dikatan Christensen “Menciptakan pasar baru memiliki risiko yang jauh lebih kecil dan lebih bermanfaat daripada memasuki pasar yang mapan dan menghadapi persaingan ketat.
Oleh Wildanshah


















