Berkoperasi Sebagai Pengembangan Diri


By : Admin Date : 4 years ago

Bagi Saya menjadi anggota koperasi adalah tentang mengembangkan diri. Waktu awal saya belajar berkoperasi, saya menyakini satu hal bahwa dengan bergabung dengan koperasi saya juga merupakan pemiliknya.

Pada awalnya keyakinan saya  memang terkesan heroik dan hiperbola. Mungkin bagi kebanyakan orang, menjadi anggota koperasi yang cuma naruh daftar nama saja, sisanya tidak mengharapkan hal muluk-muluk dari koperasi.

Padahal bila koperasi kita berkembang, begitu banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Karena dari tata kelola koperasi, kita banyak belajar tentang menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, semangat meledak-ledak di awal itu kadang juga kurang bagus, saat kita menyadari bahwa menjadi anggota koperasi bisa saja memang cuma jadi anggota, tidak butuh waktu lama menyerah akhirnya jadi hal lumrah.

Kenyataannya, saat kita memiliki keahlian, reputasi dan jejaring belum tentu juga memuluskan jalan kita untuk berkoperasi. Ada semacam “politik kantor” dari para “elit intelektual koperasi” yang tidak percaya menyerahkan kendali kepada “anggota lain” atau generasi baru.

Padahal tujuan berkoperasi adalah berkolaborasi lintas generasi. Dari koperasi seharusnya kita juga bisa memberdayakan dan berjejaring dengan banyak pihak. Tanpa itu, kita tidak ada alasan untuk bertahan berkoperasi.

Menurut pengamatan saya, ada dua alasan kenapa anggota koperasi keluar atau memilih tidak proaktif berorganisasi. Pertama, para anggota koperasi kecewa karena tidak diberikan kesempatan oleh pengurus koperasi untuk mengembangkan diri. Kedua,  para anggota koperasi merasa tidak mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan keahlian baru saat berkoperasi.

Maka dari itu, pertanyaan selanjutnya adalah, bukan seberapa besar koperasi yang akan kita masuki, tetap seberapa besar visi koperasi itu dapat tumbuh dengan keterbukaan dan mengembangkan diri para anggotanya?

Tanpa menanggap berkoperasi sebagai pengembangan diri, koperasi akan kehilangan jati diri, kepanikan, dan pesimisme yang meredupkan bisnis yang dijalankan bersama. Koperasi yang besar adalah koperasi yang mampu meningkatkan kapasitas orang-orang biasa menjadi orang luar biasa.

Berbeda dengan korporasi yang menjadikan karyawan sebagai mesin pencetak uang. Koperasi harus menjadi ruang inkubasi yang melahirkan  kepemimpinan, pada pondasi tersebut visi mulia koperasi dapat dibedakan dengan korporasi.

Keberhasilan koperasi terlentak pada seberapa besar investasi yang kita alokasikan, dan alokasi terbesar dari investasi tersebut adalah memberikan kesempatan pada anggota-anggota koperasi untuk mengembangkan diri. Selain itu, koperasi yang tidak berkembang hampir selalu adalah koperasi yang tidak mengembangkan para anggotanya.

Padahal,  dengan mengembangkan keterampilan anggota, mereka akan merasa diapresiasi dan meningkatkan rasa memiliki koperasi.

Dengan rasa memiliki yang besar, para anggota akan terus-menerus berusaha berkontribusi pada koperasi, karena mereka merasa koperasi yang ia geluti begitu berharga bagi kemajuan hidupannya dan memang benar-benar miliknya.

Oleh: Wildanshah


Share this article :

Tambah Komentar


Program Transformasi Digital


Daftar sekarang

Tentang Kami

Kolaborasi Kementerian Koperasi dan UKM dengan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI). Terbuka kepada berbagai pihak yang ingin berkontribusi membangun knowledge hub bersama terkait inovasi perkoperasian di Indonesia.

Lebih lanjut

Didukung Oleh