Walaupun banyak persoalan yang berkaitan relasi koperasi dengan komunitas. Komunitas tetap memiliki tempat di hati koperasi. Namun, hingga saat ini, kedua entitas itu cukup berjarak karena masih belum banyak kolaborasi yang terbukti berhasil sekaligus menginspirasi.
Harus diingat, bahwa membangun kembali kekuatan komunitas merupakan prioritas bagi koperasi. Keberadaan komunitas yang tangguh akan menjadi solusi jangka panjang di setiap permasalah di akar rumput.
Saat ini, ada rasa ketidakpercayaan komunitas kepada koperasi. Karena beberapa oknum koperasi papan nama memanipulasi komunitas untuk mencari keuntungan pribadi. Masyarakat khususnya daerah pedesaan banyak memberikan kritik terhadap kasus tersebut.
Pada beberapa tahun terakhir, ada peningkatkan partisipasi terhadap komunitas, banyak anak-anak muda berbondong-bodong bergabung atau membuat komunitasnya sendiri. Namun, mayoritas yang berkomunitas tidak begitu paham soal kekuatan modal sosial.
Gagasan modal sosial adalah gagasan dimana investasi sosial memiliki kekuatan yang sama dengan modal ekonomi. Intinya jika modal sosial bertumbuh, maka ekonomi di tengah masyarakat juga akan bertambah. Dengan catatan jika mampu monetisasinya dengan cangih dan adil.
Modal sosial di dalam komunitas bisa dilihat sebagai “perekat” yang dapat menyatukan ide, modal dan tenaga dari banyak orang. Perekat yang dimaksud merupakan proses timbal-balik bagi individu dalam kerangka solidaritas sosial yang pada nantinya menjelma menjadi solidaritas ekonomi.
Sekarang, koperasi perlu menyadari pentingnya untuk berinvestasi pada komunitas dengan menyulap modal sosial menjadi bahan bakar solidaritas ekonomi.
Komunitas perlu disadarkan bahwa tema-teman mereka, merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Karena komunitas merupakan perkumpulan orang yang memiliki minat dan tujuan yang sama, dengan kata lain komunitas terbentuk untuk memenuhi kebutuhannya sendiri baik disisi fungsional, emosional sosial dan finansial.
Robert Putnam, seorang ilmuwan politik dan kebijakan publik di Harvard University, mendemostrasikan bagaimana kinerja ekonomi dari komunitas secara langsung berkolerasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, sebaiknya komunitas tidak hanya memperkuat modal sosial, tapi juga memperkuat kinerja ekonomi.
Untuk memperkuat kinerja ekonomi komunitas, diperlukan manajemen, strategi, taktik, produk dan jasa yang berkualitas. Pada lini tersebutlah, koperasi bisa mengisi perannya untuk menata dan mengelola kebutuhan hidup komunitas dengan model bisnis yang tepat guna.
Tujuan koperasi dibentuk/membantu komunitas untuk menjamin pencapaian standar minimum bagi kebutuhan komoditas sandang, pangan, papan dari anggota komunitas. Untuk mengembangkan relasi koperasi dan komunitas, dibutuhkan kepercayaan untuk koperasi beroperasi di tengah komunitas.
Oleh karena itu diperlukan langkah berikut agar koperasi bisa membangun relasi kepada komunitas: Pertama, koperasi perlu berupaya untuk mengembangkan visi kesejahteraan di dalam komunitas, seperti membuat program pelatihan dan permodalan. Kedua, koperasi perlu menjadi solusi praktis dari kebutuhan spesifik komunitas. Ketiga, koperasi mulai menerapkan paradigma Asset Based Community Development (ABCD) alih-alih sibuk bicara simpanan wajib, simpanan pokok dan simpanan sukarela.
Paradigm ABCD adalah suatu konsep pemberdayaan masyarakat yang berangkat dari aset yang dimiliki komunitas. Pada konteks ini, aset tersebut dikembangkan oleh koperasi sehingga dapat meningkatkan tarif hidup orang-orang di dalam komunitas terkait. Aset dalam perspektif modal sosial harus dimaknai sebagai tenaga, ide, manusia, potensi sumber daya, alat-alat yang dimiliki komunitas dan tidak melulu soal uang.
Sebagai contoh, rumah-rumah yang berada di wilayah pariwisata merupakan aset yang dimiliki masing-masing orang di dalam komunitas tertentu. Koperasi bisa memulai mengorkestrasi aset-aset komunitas tersebut menjadi bernilai ekonomis, dengan menyulap rumahnya menjadi homestay yang terintergasi secara kolektif. Dimana masing-masing pemilik rumah menjadi brand kolektif yang manajemennya di kelola koperasi.
Koperasi hanya ber tanggungjawab dalam hal quality control, quality assurance, Service excellence training, marketing, branding dan financial planning bagi aset-aset komunitas yang dioptimalisasi dan dimonetisasi. Dengan demikian, relasi koperasi dengan komunitas menjadi benar-benar produktif dan saling menguatkan bagi keduabelah pihak.
Oleh Wildanshah


















