Mencegah Disfusi Koperasi


By : Admin Date : 4 years ago

Kerja sama tim jelas menjadi tolak ukur baik atau buruknya koperasi kita. Modal, strategi, dan teknologi menjadi berharga didalam kerja sama tim yang berkualitas. Kerja sama tim adalah hal yang sangat langka dimana budaya persaingan semakin kental di Indonesia.

Sebagian dari kita, pasti pernah merasakan politik kantor yang kotor, dan prasangka antar sesama rekan kerja yang mengurus energi. Ini biasa terjadi, karena menurut Patrick Lencioni, penulis buku “The Five Dysfungtion of a Team”, tim terdiri dari manusia yang tidak sempurna, maka dari itu adalah hal yang wajar jika disfungsional.

Manusia tidak selalu berperilaku rasional, bahkan saat mereka mencoba untuk bekerjasama. Kita cenderung memilih rekan kerja yang membuat kita nyaman secara personal. Bekerja sama dengan orang yang terlalu rasional, produktif dan proaktif bisa jadi hal yang menyebalkan.

Ranah personal selalu berhasil memberangus profesionalitas. Perlu dipertimbangkan bagi setiap orang agar mengakui perbedaan terkait eksistensi masing-masing dalam sebuah organisasi.

Dengan mengakui perbedaan , kita dapat lebih terbuka. Tim yang terbuka akan terbiasa dengan konflik. Konflik sangat erat kaitan dengan rasa saling percaya.

Karena kalau anggota koperasi kita saling percaya, seluruh anggota koperasi saat rapat pengurus tidak akan menahan diri dalam mengeluarkan opini, gagasan dan kritik. Musuh dari kepercayaan adalah keinginan untuk bersembunyi dan tidak terlibat dalam perdebatan yang konstruktif.

Koperasi yang bisa menerima konflik antar anggota, membuat rapat menjadi segar, luar biasa dan melahirkan beragam gagasan baru, yang artinya banyak skema alternatif yang bisa menjadi solusi dari masalah yang sedang dihadapi.

Anggota yang jarang berkonflik tanda-tanda kita terjerat oleh suasana harmoni palsu di dalam koperasi. Anggota-anggota kita hanya akan menghadiri rapat, untuk sekedar formalitas belaka. Hasil dari rapat hanya berujung pada wacana bukan aksi nyata gerakan bersama.

Belum lagi, egosektoral antar para eksekutif di koperasi kita, mereka terlalu memuja divisinya sendiri ketimbang berkontribusi kepada keseluruhan organisasi.

Ini menunjukan, kepercayaan yang lemah, hanya akan menghasilkan komitmen organisasi yang rapuh. Keputusan sepihak dari elit-elit koperasi secara aktual selalu gagal diterima dengan baik oleh para anggotanya sendiri.

Lecioni akhir bukunya memberi saran praktis yang kita dapat adopsi di rapat-rapat koperasi. Menurutnya, saat sebuah rapat hendak berakhir, pastikan orang-orang yang hadir tahu dengan jelas apa yang telah diputuskan dan apa yang akan dikomunikasikan pada seluruh organisasi.

Bagi Lecioni, ini cara yang paling efektif untuk menghapus perbedaan tafsiran di antara peserta rapat, sehingga mereka tidak bisa mengubah sebuah kesepakatan dikemudian hari karena merasa tidak dilibatkan dari awal.

Oleh Wildanshah


Share this article :

Tambah Komentar


Program Transformasi Digital


Daftar sekarang

Tentang Kami

Kolaborasi Kementerian Koperasi dan UKM dengan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI). Terbuka kepada berbagai pihak yang ingin berkontribusi membangun knowledge hub bersama terkait inovasi perkoperasian di Indonesia.

Lebih lanjut

Didukung Oleh