Koperasi ABCD


By : Admin Date : 4 years ago

oleh Wildanshah Manajer Pengetahuan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI)

Koperasi selalu berusaha untuk menjawab kebutuhan anggota. Walaupun berbasis pada anggota, pada praktiknya di lapangan, pola pemberdayaannya seperti ini seringkali top down, akibatnya anggota menjadi  pasif menerima arahan dari para pengurus koperasi.

Model menjawab kebutuhan anggota ala koperasi selalu memicu ketergantungan pada pihak eksternal dalam bentuk berbagai program bantuan. Secara problematis, anggota inisiatifnya tergerus, pengurus menjadi lebih sibuk mencari koneksi eksternal ketimbang membangun potensi internal.

Koperasi yang terjerat situasi ketergantungan, akan selalu menarik orang luar untuk terlibat mencari solusi-solusi jangka pendek.

Untuk keluar dari paradigma lama, koperasi masa kini perlu mencoba pendekatan yang lebih menantang tradisi. Pendekatan yang bisa diadopsi adalah Asset-Based Community Development (ABCD). Model pemberdayaan ABCD memilih fokus dalam pendekatan yang inklusif, apresiatif, evolutif dan transformatif.

Pendekatan ABCD sebenarnya telah lama dikenalkan oleh Yohanes. L Mcknight dan John P.Kretzmann, pada tahun 1993 melalui buku “ Building Communities from the Inside Out”. Buku tersebut berdasarkan penelitian mereka bertahun-tahun terhadap program-program pemberdayaan masyarakat yang berhasil maupun yang gagal di berbagai negara.

Yohanes dan Jhon, menguraikan dan mencatat keberhasilan dari sebuah komunitas berdaya seringkali hanya mengandalkan keterampilan penduduknya, asosiasi lokal yang telah tumbuh, sejarah lokal yang menginspirasi masyarakat, hingga sumber daya yang memang telah mereka miliki sendiri.

Intinya, pendekatan ABCD merupakan pola pemberdayaan masyarakat yang menggali dan menempa aset material juga immaterial yang telah dimiliki oleh masyarakat. Koperasi dalam konteks ini bisa membantu masyarakat memetakan keterampilan, potensi dan aset yang telah melekat di masyarakat lalu memobilisasinya menjadi kekuatan ekonomi.

Model ini tidak menjadikan modal dan penyertaan uang sebagai yang fundamental. Karena pendekatan ABCD kekuatan utamanya adalah membangun relasi dan mengembangkan potensi yang telah ada, mendorong masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat tapi pemberi manfaat.

Pendekatan ABCD berfokus pada kekuatan masyarakat, bukan pada masalahan maupun kebutuhannya. Karena masalah dan kebutuhan masyarakat jika dipetakan akan memiliki daftar panjang yang tidak berujung, yang pada akhirnya tidak ada satu gerakan yang berhasil untuk menjawab semua kebutuhan dan permasalah yang menumpuk tersebut.

Kita harus akui bahwa setiap program pemberdayaan memiliki keterbatasan waktu dan sumberdaya. Dan yang paling fatal, jika  program tersebut membutuhkan sumber daya besar yang tidak bisa disiapkan masyarakat itu sendiri, lagi-lagi masyarakat akan tersubordinasi dalam prosesnya oleh lembaga-lembaga yang “membantunya”.

Masalah lainnya, lembaga-lembaga yang “membantu” ini, tanpa sengaja memposisikan komunitas masyarakat yang diintervensinya sebagai entitas yang serba kekurangan, buruk, dan tidak berdaya. Stigma ini racun yang secara senyap menggerogoti kepercayaan diri masyarakat untuk berdaya dan tumbuh karena melulu dicekoki analisa-analisa pesismistik.

Oleh karena itu, peran koperasi dalam mengadopsi pendekatan ABCD  adalah untuk menemukan potensi ekonomi lalu menghubungkan dengan aset yang telah dimiliki masyarakat. Maksudnya, Koperasi ABCD memiliki tugas untuk mengasah setiap bakat, menempa setiap keterampilan, mengubah setiap aset untuk menjadi simpul produktifitas masyarakat.

Koperasi harus menemukannya dari dalam untuk tumbuh perlahan dalam memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan persoalan, bukan sebaliknya, terburu-buru mencari solusi pemecahan masalah dan kebutuhan tapi mengabaikan potensi yang seharusnya berkembang terlebih dahulu.

 

Langkah ini akan memperkuat orang percaya pada kapasitasnya sendiri dalam ambil bagian dalam pertumbuhan. Caranya dengan berfokus pada hubungan-hubungan kepemilikan aset dan relasi mode produksi dalam masyarakat. Koperasi ABCD secara konkrit, berupaya membuat semua orang berpatungan melalui aset fisik maupun non fisik dengan sebaik-baiknya melalui manajemen yang akuntabel.


Share this article :

Tambah Komentar


Program Transformasi Digital


Daftar sekarang

Tentang Kami

Kolaborasi Kementerian Koperasi dan UKM dengan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI). Terbuka kepada berbagai pihak yang ingin berkontribusi membangun knowledge hub bersama terkait inovasi perkoperasian di Indonesia.

Lebih lanjut

Didukung Oleh