Oleh Wildanshah Manajer Pengetahuan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dan Ketua Bidang Minat Bakat Pengurus Pusat Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri Polri (GM FKPPI)
Dalam koperasi yang pasti itu adalah ketidakpastian. Mulai dari kebijakan hingga pasar yang selalu berubah. Dalam situasi ini, satu-satunya kekuatan utama untuk beradaptasi dengan merapikan administrasi dan manajemen pengetahuan sebagai competitive advantage bagi koperasi kita.
Menata dan mengelola pengetahuan perannya sangat penting bagi koperasi. Pengetahuan di era industri 4.0 menjadi penentu sukses tidaknya pembangunan ekonomi baik di level negara maupun pada level perusahaan.
Pengetahuan merupakan tanah subur bagi inovasi. Pengetahuan “tertentu” bisa jadi rahasia besar perusahaan yang membedakannya dengan perusahaan lainnya. Maka dari itu, sejak dulu banyak perusahaan merasa perlu menjaga “pengetahuan rahasia” ini untuk tetap memiliki keunggulan daya saing perusahaan, dan sekarang “kerahasiaan” itu dilindungi oleh hak paten.
Winston Churchill, seorang negarawan asal Inggris, pernah mengatakan, kerajaan yang menguasai masa depan adalah kerajaan pikiran. Artinya, pengetahuan akan menjadi aset terbesar yang membuat manusia menguasai masa depan, hal ini berlaku di sektor politik, ekonomi bahkan budaya.
Bagi koperasi yang ingin bertahan di era industri pengetahuan, tidak cukup hanya beradaptasi perubahan, tetapi juga harus bisa menciptakan perubahan melalui pengetahuan.
Hal ini selaras dengan pendapat Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi, penemu model spiral manajemen pengetahuan atau biasa dikenal sebagai metode SECI yang membahas tautan antara pengetahuan tacit dan eksplisit yang di miliki orang-orang dalam sebuah organisasi. Menurut mereka, tidak mungkin suatu organisasi bisa menciptakan inovasi tanpa menata kembali pengetahuan personal maupun komunal yang telah dimiliki organisasi yang bersangkutan.
Untuk membenahi koperasi dan mengejar ketertinggalan, kita perlu mengetahui empat level inovasi di tingkat praktis menurut pengalaman saya.
Pertama, inovasi level simbolik, disini koperasi mulai melakukan rebranding atau peremajaan pada seluruh produk visualnya baik dari logo, nama, media sosial dan segala turunannya. Rebranding diharapkan memberikan nilai tambah terhadap persepsi positif publik kepada koperasi kita.
Kedua, inovasi level program, koperasi kita perlu membuat satu program prioritas strategis yang menjadi “kuda troya” bagi program-program lainnya. Karena kebanyakan program membuat koperasi tidak fokus, terlalu membuang-membuang sumberdaya dan paling fatal tidak dapat menciptakan daya ungkit.
Ketiga, inovasi level kapasitas, koperasi yang cangih, mulai mencoba membuat organisasi menjadi lebih ramping dengan meningkatkan kapasitas sumberdaya manusianya dan mengadopsi teknologi terkini. Cara cepat untuk menerapkan ini adalah dengan memberikan pelatihan kepada pengurus koperasi untuk belajar di sektor bisnis yang tidak berkaitan dengan lini bisnis yang sedang digelutinya.
Keempat, inovasi level sistem, ini merupakan yang paling menantang bagi koperasi kita. Secara fundamental ini memerlukan waktu dan pikiran yang terbuka. Inovasi di level sistem sebuah langkah yang penuh resiko, menciptakan kepanikan, tapi perlu dilakukan. Karena yang diubah adalah model bisnisnya agar tetap relevan dengan gerak zaman seperti perubahan strategi, struktur, dan kulturnya.
Membuat inovasi diberbagai level memerlukan kepemimpinan yang visioner. Dengan demikian, pengurus koperasi perlu memiliki keterampilan melihat tantangan menjadi kesempatan, dan menyakinkan semua orang bahwa perubahan dapat diciptakan. Kombinasi visi, manajerial, dan kemampuan membangun kolaborasi menjadi semakin penting dalam memastikan setiap anggota tergerakan dengan reward dan recognition untuk melahirkan pengetahuan sekaligus inovasi baru.


















