Oleh Wildanshah Manajer Pengetahuan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI)
Saya adalah orang yang sering berjalan memandang laut.
Setiap menginjak sebuah daerah pesisir, saya terkagum tentang potensi kekayaan
laut kita, dan kontribusi terhadap masa depan manusia. Birunya laut yang
mendominasi isi bumi telah lama menjadi daya dukung kehidupan manusia selama
ribuan tahun.
Bayangkan saja, 71 persen permukaan bumi terdiri dari air,
sedangkan 29 persen sisanya terdiri dari benua dan pulau. Hidup kita tidak bisa
lepas dari air laut. Bumi sendiri, mengandung 96,5 persen air asin dan 3,5
persen air tawar yang mengalir di danau, sungai, air tanah, kutub es bahkan
gletser.
Lautan di dunia, bahkan khususnya di Indonesia merupakan
rumah bagi jutaan mahluk hidup yang menjamin kehidupan juga nasib perekonomian
kita. Faktanya, 50 persen hingga 80 persen oksigen yang kita konsumsi melalui
paru-paru sehari-hari bukan dari hutan tapi berasal dari laut.
Laut juga menjadi jembatan ekonomi antar negara, yang dimana
90 persen barang perdagangan dunia lebih banyak melewati ombak, ketimbang
terbang melalui udara. Maka tidak aneh, sejak dulu hingga kini, laut telah menjadi
arena pertempuran geo-politik dan geo-ekonomi dunia.
Manfaat laut juga terbukti di meja makan kita, melalui
penakapan atau budidaya hewan juga
tumbuhan laut, kebutuhan gizi sekaligus nutrisi kita dapat terpenuhi dengan
harga yang cukup murah.
Fakta menariknya, dunia telah menghasilkan 200 juta ton ikan
dan makanan laut setiap tahun, dan Indonesia berkontribusi besar diangka
tersebut, tapi tingkat konsumsi ikan bangsa kita masih sangat rendah dibandingkan
negara lain.
Berangkat dari berbagai potensi yang terkandung dalam
lautan, kita memerlukan paradigma baru dalam tata kelola laut di negara kita.
Misalnya, kita dapat mengadopsi gagasan “ekonomi biru” yang lahir pada
konferensi Rio+20.
Ekonomi biru, menurut Bank Dunia mengacu pada penggunaan
berkelanjutan sumber daya laut untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata
pencaharian, dan kelestarian ekosistem laut. Konsep ekonomi biru memiliki
definisi yang menlingkupi industri budidaya,pariwisata, transportasi,
bioteknologi dan lainnya.
Koperasi Menantang
Ombak Kesenjangan
Ekonomi biru mencoba mencari titik temu antara pertumbuhan
ekonomi dengan keberlanjutan bumi, dimana kelestarian laut menjadi prioritasnya.
Memang ini pasti jalan yang penuh rintangan, tidak bisa
diwujudkan pada waktu yang sangat singkat, dibutuhkan strategi jangka panjang
yang dihormati oleh semua kelompok kepentingan. Selain itu, pendekatan ekonomi
biru juga mencoba mengawal segala aktivitas ekonomi yang terjadi di darat baik
yang berdampak langsung maupun tidak langsung.
Saat ini, laut di Indonesia sedang menderita akibat
aktivitas bisnis yang dilakukan manusia, termasuk efek samping lain dari
industrialisasi seperti penangkapan ikan yang berlebihan, pengasaman, polusi,
perubahan iklim dan banyak hal lagi,
Langkah selanjutnya, konsep ekonomi biru tidak bisa hanya
menunggu perubahan struktural, ini perlu pergerakan kultural untuk membuatnya menjadi
kenyataan. Konkritnya, penggiat koperasi, bisa menjadi aggregator entitas
bisnis di tingkat akar rumput melalui koperasi multipihak, dimana koperasi
dapat memposisikan diri sebagai orkestrator masyarakat setempat, investor dan
aktor ekonomi lainnya pada wilayah pesisir.
Upaya ini, merupakan cara untuk pengetahuan modern,
pertumbuhan ekonomi dan kearifan lokal dan terhubung secara bermakna oleh semua
pihak yang ingin terlibat berbisnis yang memanfaatkan sumber daya laut.
Setiap entitas di tengah masyarakat dirajut untuk menjadi
anggota koperasi multipihak agar dapat berbagi ide, sumber daya dan tenaga
tentang kebutuhan ekonomi yang ingin mereka kelola di ekosistemnya sendiri. Koperasi
multipihak dapat mendukung upaya kolaborasi berbasi pada potensi dan aset
masyarakat, serta mengatasi kesenjangan yang terus-menerus terjadi di industri
ini di tingkat lokal.
Pendekatan koperasi multipihak dalam mengadopsi konsep
ekonomi perlu berfokus untuk mengintegrasikan demensi horizontal aktor-aktor
yang bergelut di sektor yang sama, pada prosesnya nanti baru memperjuangkan integrasi
vertikal di skala kebijakan pemerintah daerah.
Penting bagi koperasi multipihak memastikan bahwa proses adopsi konsep ekonomi
biru terjadi secara inklusif dan partisipatif, khususnya dalam melibatkan
orang-orang yang memiliki keterbatasan kultural maupun struktural. Dengan
demikian, koperasi perlu menjadi katalisator dalam mengindentifikasi
kelompok-kelompok yang terpinggirkan secara presisi dan teliti di wilayah pesisir.


















